DEPOKPOS – Pembicaraan tentang inflasi selalu menjadi popular di Indonesia, terutama ketika tingkat inflasi demikian tingginya sampai mencapai 77,6% persen yang terjadi saat tahun 1998, lonjakan inflasi ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang amat drastic, disertai kenaikan harga komoditas seperti bahan bakar, pangan dan juga obat-obatan. Inflasi adalah suatu fenomena ekonomi yang paling dihindari oleh negara. Sederhananya, inflasi bisa diartikan sebagai kenaikan harga yang terjadi secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Inflasi dapat terjadi dikarenakan beberapa hal, diantaranya, natural inflation, human error inflation, cost push inflation, spiralling inflation, imported inflation (Kurniawati 2019). Pemerintah akan memberikan perhatian khusus jika inflasi disuatu negara memiliki persen yang tinggi, hal ini dikarenakan tingkat inflasi yang tinggi bisa memberikan banyak implikasi negatif bagi suatu negara.
Cara utama untuk mengendalikan inflasi adalah dengan menerapkan kebijakan moneter. Tujuan dari kebijakan moneter sendiri adalah memastikan keseimbangan moneter, stabilitas, dan nilai uang sambil mendorong produksi, pertumbuhan dan kesempatan kerja yang efisien untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat. Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) memiliki persan sentral dalam merancang dan melaksanakan kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Setelah terjadinya krisis moneter pada tahun 1997-1998, Bank Indonesia telah memperkuat perannya dalam mengendalikan inflasi melalui strategi yang berbasis pada target inflasi. Menurut Firmansyah (2022), peran kebijakan moneter ini sendiri sangatlah penting dalam mengendalikan inflasi di Indonesia.
Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter di Indonesia memiliki tanggung jawab dalam menjaga stabilitas melalui kebijakan moneter yang tepat. Salah satu instrument utama yang digunakan oleh Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi adalah mengatur suku bunga acuan, dengan menaikkan suku bunga, Bank Indonesia bertujuan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Sebaliknya, jika menurunkan suku bunga, Bank Indonesia bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan jumlah uang yang beredar, namun risiko terjadinya inflasi otomatis juga lebih besar. Selain mengatur suku bunga, Bank Indonesia juga menggunakan instrument kebijakan moneter lainnya, seperti operasi pasar terbuka dan cadangan wajib bank untuk mengendalikan inflasi.
Meskipun kebijakan moneter yang diterapkan oleh Bank Indonesia terbukti cukup efektif dalam mengendalikan inflasi, masih terdapat beberapa tantangan yang masih perlu dihadapi. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh Bank Indonesia adalah fluktuasi harga komoditas internasional dan nilai tukar rupiah, yang dapat memengaruhi tingkat inflasi di Indonesia. Menurut Saiyed (2021), untuk mengatasi tantangan ini, Bank Indonesia perlu meningkatkan koordinasi dengan pemerintah dalam merancang kebijakan fiskal yang dapat mengurangi ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap harga komoditas internasional. Selain itu, Bank Indonesia juga harus terus meningkatkan transparansi kebijakan moneter dan komunikasi dengan pasar, dengan memberikan informasi yang lebih jelas tentang proyeksi inflasi dan kebijakan moneter yang akan diterapkan, Bank Indonesia dapat membentuk ekspektasi pasar yang lebih baik, sehingga dapat mengurangi volatilitas pasar dan mencegah terjadinya tekanan inflasi (Permana dkk, 2022).
Tingkat inflasi di Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, dari faktor internal ataupun eksternal. Faktor internal meliputi permintaan, biaya produksi, dan kebijakan fiskal serta moneter. Permintaan agrerat yang tinggi bisa mendorong kenaikan harga barang dan jasa, sementara peningkatan biaya produksi, terutama biaya bahan baku dan tenaga kerja juga dapat mendorong terjadinya kenaikan harga. Selain itu, kebijakan fiskal yang ekspansif, seperti peningkatan belanja pemerintah tanpa disertai peningkatan pendapatan juga dapat menyebabkan kenaikan inflasi (Mujasmara dkk, 2023). Dan faktor eksternal seperti harga komoditas internasional, nilai tukar, dan kondisi ekonomi global juga turut memengaruhi tingkat inflasi di Indonesia. Naiknya harga komoditas internasional, terutama minyak dan pangan juga dapat menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri, sementara depresiasi nilai tukar rupiah juga dapat mendorong kenaikan harga barang impor.
Nilai rupiah, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga harus bisa distabilkan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia yang berfungsi sebagai bank sentral negara. Selain itu, pemerintah harus mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan ekspor dan cadangan devisa negara. Jika nilai tukar dianggap terlalu tinggi, kebijakan bisa diubah untuk mendevaluasi mata uang, yang akan menurunkan impor. Barang-barang ekspor pada akhirnya akan terjangkau di luar negeri karena ekspor negara tersebut meningkat. Bank Indonesia perlu terus meningkatkan koordinasi dengan pemerintahy dalam merancang kebijakan fiskal yang dapat mengurangi ketergantungan ekonomi Indonesia, selain itu transparansi kebijakan moneter dan komunikasi yang lebih baik dengan pasar juga menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga dan mencegah terjadinya tekanan inflasi yang berlebihan. Dengan begitu, Bank Indonesia dapat terus menjaga inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.
Ditulis oleh : Fairuz Alya Manora, mahasiswi Universitas Tazkia jurusan Akuntansi Syariah
